Categories

Thursday, May 27, 2021

Karena Replika Makanan, Hadirlah Brownies Andalan

Suatu hari, saat saya sedang ada di ruang kerja, anak saya masuk, sambil lirik-lirik dia bertanya "Mama, saya boleh minta kuenya? Perut saya menangis, minta diisi" 

Hah? Kue apa? Rasanya saya gak  bawa makanan apapun, setelah ditunjuk, baru saya ngeh. Ternyata makanan ini :


Ada yang ikut ketipu juga?  selamat bergabung dengan anak saya. Berhubung kerjaan saya jahit menjahit, jadi cukup sering juga buat replika makanan dari kain felt. Seringkali yang jadi korban adalah suami dan anak saya. Tidak jarang mereka komplain karena mau makanan aslinya. Gimana enggak, saya lebih sering bikin replika, daripada makanan aslinya  . ini beberapa contoh replika yang saya buat, semua real size

Replika makanan dari kain flanel

Tapi kali ini, anak saya bener-bener ngiler lihat replika browniesnya. Mukanya terlihat kecewa sekali.  Agak kasihan juga, jadi saya putuskan untuk buat browniesnya.  Sejujurnya saya lebih senang memasak lauk untuk makan daripada baking , jadi saya gak ada bayangan mau yang bentuknya seperti apa. 

Tahap pertama, langsung meluncur ke instagram, searching hashtag #resepbrownies . Langsung bermunculan ratusan ribu post resep brownies. Saya sortir berdasarkan siapa yang posting, kalau yang posting akun yang modal copy paste dari yang ada , langsung saya skip karena pasti belum pernah dicoba sendiri. Selanjutnya cek penjelasannya, apa cukup lengkap. Setelah dicek, ternyata ada 1 resep yang sering dipakai orang. Tampilan fotonya cukup menarik dengan shiny crust yang keluar di bagian atas brownies. berikut resepnya yang saya modifikasi sedikit. 

Resep Brownies 

Bahan A

150 gr dark cooking chocolate ( saya pakai merk tulip)

50 gr mentega (saya pakai merk Anchor)

40 ml minyak


Bahan B

2 butir telur 

150gr gula pasir yang diblender  (saya kurangi jadi 120gr)

vanilla paste 1 sdt


Bahan C

100 gr tepung terigu

35gr coklat bubuk

ayak bahan C


Topping chocolate nibs


Cara membuat :

1. Panaskan oven 185 derajat C

2. Lelehkan bahan A dengan cara di tim. Tapi biasanya saya masukkan oven aja sebentar, baru diaduk2, sampai lelehannya merata.

3. Kocok bahan B sampai gula larut, sebentar saja. Msukkan bahan A, aduk rata.

4. Masukkan bahan C , aduk rata. adonan akan menjadi kental dan berat.

5. Siapkan loyang , alasi dengan baking paper. Tuang adonan ke dalam loyang lalu beri topping

6. Panggang selama 30-40 menit sesuai oven masing-masing. Setelah matang tunggu brownies dingin terlebih dahulu baru bisa dikeluarkan dari loyang, potong sesuai selera.

Biar seru, sekalian anak diajak ikut membuatnya , toh kalau dicek, gak terlalu rumit juga prosesnya. Masak memasak ini pengalaman seru buat anak, bisa aduk dan campur, dan bangga juga karena bisa masak sesuatu.  Walaupun anak saya laki-laki, tapi tetap saya ajarkan memasak, karena masak itu skill dasar yang harus dimiliki semua orang kan? Dari dalam oven, bau coklat menyeruak, anak saya semakin gak sabar mau coba tapi harus bersabar karena browniesnya harus didinginkan dulu . Total waktu dari persiapan sampai bisa dimakan sekitar 1,5jam . Ini hasil jadinya :


Kenapa toppingnya cocoa nibs ? karena ada di rumah. Suami saya iseng beli cocoa nibs, tapi karena pahit, jarang dipakai. Daripada nanti keburu kadaluarsa, ya saya jadikan topping. Setelah googling, ternyata cocoa nibs itu biji coklat mentah yang ditumbuk jadi ukuran kecil. Jadi memang rasanya pahit, tapi ternyata cocok dijadikan topping brownies yang manis. 

Apa anak saya suka? Tentu saja. Satu rumah suka , sampai saya stok agak banyak . Untuk penyimpanan, saya lebih senang dipotong-potong kecil, lalu dibungkus satuan, dimasukkan ke freezer. Jadi kalau sewaktu-waktu mau brownies, tinggal thawing , lalu dioven sebentar, rasanya tetap moist. 

Akhirnya resep brownies ini saya simpan sebagai resep andalan, seringkali saya buat saat ada acara . Brownies ini juga saya jadikan hampers untuk dibagikan ke teman dan keluarga , cukup beli packaging yang cantik, dihias dengan pita. Apa ada juga yang senang bagi-bagi hampers dari hasil masakan sendiri? 

Blogpost ini dibuat untuk Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog



Friday, April 30, 2021

Review Buku Little People, Big Dreams Frida Kahlo

Untuk Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan ini yang bertema review buku perempuan inspiratif, saya memilih untuk mengulas buku tentang Frida Kahlo. Sebenarnya ada banyak buku yang mengulas mengenai Frida Kahlo, tapi saya pilih buku ini karena alasan personal. Saya pertama kali tahu tentang Frida kahlo dari buku ini, saat saya sedang mengantar anak ke perpustakaan di daerah Pasir Ris. Perdana saya mengunjungi perpustakaan saat tinggal di sana. Saat itu buku ini yang paling menarik perhatian . Sebenarnya ini buku anak, tapi cukup inspiring. 


Magdalena Carmen Frida Kahlo y Calderon lahir 6 Juli 1907 di  Coyoacan , Mexico. terkenal sebagai pelukis, yang identitas dan penampilannya adalah perpanjangan dari karya seninya. Dirinya selalu diingat dari penampilannya yang flamboyan khas meksiko, warna warna terang dan tegas , kepala yang selalu dihiasi dengan aneka bunga, corak motif baju yang meriah. 

Sejak kecil sudah spesial, tubuhnya berbeda dari teman-temannya. Saat sekolah, Frida Kahlo mengidap polio, yang mengakibatkan salah satu kakinya menjadi kecil sekali. Tapi Frida kecil tidak pernah mengeluh. Penampilannya berbeda dengan yang lain, dia lebih senang berpakaian tomboy, bermain bola, gulat, tinju, dan atlit renang. Namun teman-temannya sering mengejek kakinya, lama-lama frida mulai memakai celana panjang, dress panjang, dan rok untuk menutup kakinya.  Penampilannya yang eksentrik ini yang membuat saya tertarik membuat bonekanya.

Saat remaja, Frida mengalami kecelakaan fatal saat ada di dalam bis. Lukanya terlalu banyak , beberapa patahan di tulang belakang, iga, pelvis, patah kaki dan dislokasi bahu. Selama perawatan pasca kecelakaan, Frida harus diam di tempat tidurnya  selama berbulan-bulan dan harus menjalani lebih dari 30 kali operasi.Tapi Frida tetap semangat dan yakin akan sembuh. Saat itu dia berniat untuk jadi dokter, tapi karena kecelakaan, maka dia tidak bisa masuk kelas. Bosan terus-terusan di  kasur, Frida meminjam cat dan kuas dari ayahnya. Walaupun badannya sakit dan susah bergerak, Frida belajar menggambar, dimulai dari objek yang selalu dilihat, kakinya. Lama- lama berkembang melukis wajahnya sendiri dengan bantuan cermin.

Kemampuannya tidak luput dari peran ayahnya, yang merupakan fotografer ternama yang memotret bangunan bersejarah di meksiko , sehingga Frida dapat belajar tentang sejarah, seni dan arsitektur Meksiko, yang menginspirasi lukisannya.

Melukis membantu Frida untuk melalui masa sulitnya, dan semakin banyak dan bagus pula lukisannya. Saat tubuhnya membaik, dia memutuskan untuk menunjukkan hasil karya ke dunia luar. Dia mendatangi seorang seniman ternama yang bernama  Diego Rivera, yang akhirnya menikahi Frida. 

Dari lukisan-lukisannya, Frida menggambarkan perasaan hatinya. Suasana hati sedih atau senang, diungkapkan dalam bentuk lukisan. Karyanya mulai terkenal di seluruh dunia, dan pameran diadakan di berbagai tempat. Sayangnya saat pameran diadakan di Meksiko, Frida sakit dan harus bedrest, tapi tidak menghentikannya . Pameran tetap berjalan, Frida menyambut tamu-tamunya  di temat tidur sambil bercerita dan bercanda.


Setelah kematian Frida, rumahnya dijadikan museum. Selain lukisan, di sana juga dipamerkan hal-hal yang menginpirasi lukisannya seperti buku, foto, perabotan, dokumen dan pakaiannya.

Buku Little People, Big Dreams Frida Kahlo ini berisi ilustrasi sederhana, tapi dengan penceritaan yang menarik. Bahwa seberat apapun hidup, pasti ada jalannya. Hal- hal buruk bukan untuk diratapi, tapi untuk dijalani . Sesuai quotes dalam lukisannya "Viva La Vida" ,  " Live Life"

Seluruh isi buku ini diilustrasikan dengan cantik, dan berwarna di setiap halamannya. Sesuai dengan peruntukannya untuk anak-anak, buku ini memang hanya membahas hal dasar dan fakta yang paling dikenal saja. Untuk ukuran buku anak, cukup infomatif, bisa sebagai pengenalan buku nonfiksi.


Tuesday, March 30, 2021

Kenapa pilih Kuliah di ITB? Ini Alasannya



Buat saya, ini topik sulit untuk dibahas. Karena memang ga ada alasan spesifik , plus cukup mengorek luka lama. Saya lolos SPMB pilihan pertama tahun 2004 di Teknik Fisika ITB. Flashback ke masa kecil, dari SD tiap ditanya cita-citanya apa, jawabnya pasti mau jadi dokter, dokter anak.  Di perpustakaan SD saya , terbatas bukunya, rata-rata pekerjaan di buku perpustakaan itu  petani, nelayan, guru, dokter,astronot, abri, polisi. Jadi yang terbayang ya diantara itu aja. Kalau sekarang yang namanya profesi sudah jauh lebih beragam , bahkan banyak yang baru ada beberapa tahun terakhir. Dengan akses informasi yang lebih mudah, cita-cita anak jadi makin banyak pilihan.

Cita-cita jadi dokter ini saya bawa sampai SMA. Masuk kelas 3, saya mulai realistis, mulai hitung-hitungan. Ngecek lama kuliah buat jadi dokter, ya kok lama ya balik modalnya. Lebih sadar diri aja, prestasi standar, ga bisa ngajuin beasiswa prestasi, beasiswa tidak mampu  gak masuk kriteria, tapi buat bayar full gak sanggup juga. Mentok sana sini. 

Orangtua membebaskan, mau kuliah di mana jurusan apa,asal negeri, biar murah katanya. orangtua saya cuma lulusan SMP dan SMK, jadi ga punya gambaran kuliah itu seperti apa. Mereka cuma mau perbaikan taraf hidup, dengan pesan bahwa warisan yang bisa dibagikan oleh mereka hanyalah ilmu (dikuliahkan ) . Telat juga sih saya cari- cari Jurusan kuliah , akhirnya saya pilih sesuai mata pelajaran yang saya suka, Fisika. Berhubung agak ambisius, ya saya cari yang passing gradenya mendekati nilai passing grade  kedokteran. Semacam pembuktian kalau memang mampu masuk kedokteran. Setelah dicek, Jurusan Teknik Fisika ITB memenuhi kriteria, Jadi biar gampang pilihan keduanya Fisika ITB.

Tapi ternyata kelas 3 SMA itu Masa-masanya saya senang main, malas belajar, kebanyakan bolos les. Jadi setiap tryout bimbel cuma bisa lulus pilihan kedua. Sampai di tryout terakhir , bertekad kalau masih gagal di pilihan pertama, Form SPMB nanti bakal ganti pilihan jurusan yang  lebih rendah aja. Eh ternyata di tryout terakhir ini saya lolos pilihan pertama. Jadi berbekal nilai tryout terakhir, saya nekat pilih Teknik Fisika ITB. Alhamdulillah lulus.

Tapi diterima di ITB Jadi masalah di keluarga, ada salah satu anggota keluarga yang gak setuju. Menurut beliau sebaiknya saya masuk Politeknik aja biar capet lulus dan langsung kerja. Ada benarnya juga sih, yang saya butuhkan memang cepat kerja. Tapi kapan lagi kan bisa masuk ITB? Dengar cerita ayah waktu muda, menangis depan ITB Karena gak lulus ujian masuk, dari pedalaman nekat ke Bandung buat daftar. Saya Jadi merasa perlu masuk ITB. Apalagi dulu biaya kuliah di ITB masih cukup terjangkau. Ayah pun sangat mendukung karena beliau kerja di bidang teknik, jadi merasa ada "teman", biar ada koneksi pas nanti kerja katanya.

Lanjut begitu masuk kuliah, ya gak ada gambaran apa- apa bakal jadi gimana. Ternyata susah ya kuliah, hahaha. Lulus kuliah dengan susah payah, nilai seadanya. Karena satu dan Iain hal, saya gak kerja sesuai kuliah. Buat penghasilan, saya mengembangkan hobby saya untuk mendapatkan penghasilan. Jadi kalau ditanya apa saya masih ingat materi kuliah? Oh sudah tentu tidak. Menyesal pilih ITB? gak juga, buat apa menyesal. Mungkin sampai saat ini ijasah saya tidak terpakai, tapi siapa tau masa depan bisa. kalaupun memang tidak terpakai sama sekali, ya gak apa-apa juga. Kadang capek juga dengan omongan orang " sayang banget ijasahnya gak dipake",  gapapa, lama-lama biasa , senyumin aja.

Tapi  mungkin namanya jodoh, ada aja momennya untuk kembali ke kampus. Pernah diminta isi 1 jam kuliah wirausaha di jurusan, di sini saya menjelaskan tentang usaha craft , biar adik adik yang masih kuliah bisa dapat pencerahan, kalau lulus, bisa jadi apa saja. Receh sih, tapi buat saya ini pencapaian. Lalu tahun 2020, saya  dan teman-teman membuat project buku anak berjudul " Fisika di Sekitar Kita" . Walaupun disitu status saya sebagai ilustrator, gak apa - apa ya , anggap masih nyambung sama kuliah.



Blog post ini dibuat untuk memenuhi Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog.

Sunday, February 28, 2021

Frida Kahlo Doll Workshop

Ini pertama kalinya saya mengadakan kelas craft selama pandemi. Pertama kalinya juga saya mengadakan kelasnya online. Selalu ada momen pertama di setiap hal ya? Selalu hal pertama ini yang bikin gugup dan banyak kekhawatiran.


Kelas online yang diadakan sebenernya  ada plus minusnya. Plusnya, peserta bisa dari mana aja, karena ga terbatas tempat, transportasi. Waktu pengerjaan bisa lebih fleksibel, karena ada selang beberapa hari pengiriman kit ke peserta, jadi bisa dikerjakan sesegera mungkin ketika waktu luang. Harga lebih terjangkau , memangkas biaya sewa tempat dan transportasi. Jumlah peserta bisa lebih banyak dibandingkan offline.  Minusnya, vibe kursusnya kurang terasa, karena gak ngumpul, ga langsung praktek bareng , karena biasanya itungannya dateng ke workshop itu untuk hiburan. Tapi dengan segala kekurangannya, semoga semua peserta mendapatkan pengalaman dan keterampilan baru.

Kelas online Frida Kahlo doll ini, diselenggarakan oleh Menimba Ilmu . Jadi peserta dikumpulkan via WA grup tanggal 26 Februari 2021. Saya dari sebelumnya sudah menyiapkan materi dan bahan-bahan. Saya bukan orang yang bisa atau mahir gambar. Jadi , urusan pola pun, gak pernah saya sketsa. Kalau lagi bikin boneka, biasanya saya gunting dulu, baru hasil guntingannya saya jiplak jadi pola. Beres trial and error , masuklah saya ke pembuatan tutorial.  Untuk tutorialnya saya berikan dalam bentuk booklet, dan video.

keringetan bikin booklet

Jujur , udah lama saya gak ngerjain urusan depan laptop, jadi bikin booklet dan video buat saya susah banget. Harus pilih apps yang mau dipakai, harus belajar lagi buat pemakaiannya. Untuk video, saya pakai Inshot, untuk booklet saya pakai canva. Dua-duanya saya pakai yang berbayar. Kenapa gak pakai yang versi gratis, nanti saya jelaskan di postingan selanjutnya ya.

Semua proses saya kerjain sendiri, mulai dari desain, merekam video, edit, cetak booklet, sampai menyiapkan kit & kirim2. Tapi ada pak suami dong yang setia nganter2in ke sana ke mari. Jadi nano-nano deh rasanya.


Hari H jadwal workshop, saya udah standby di ruangan saya . Sebenernya agak bingung, karena selama beberapa hari, gak ada pertanyaan masuk. Jadi saya bingung mau ngapain, karena sesi online ini, harusnya jadwal saya buat menjawab pertanyaan masuk. Tapi ternyata pas mulai, ternyata jalan aja acaranya, udah ada yang jadi, ada yang nanya2. jadi gak kerasa juga udah 2 jam saya isi kelas onlinenya. 

ini hasil dari beberapa peserta . Yang bikin kaget, ternyata banyak peserta anak. Malah ada yang masih 8th, semangat bikin sendiri, dan jadi.  Keren banget.

Mungkin kalo diliat, kayak ribet banget saya nyiapin workshopnya. Ya namanya tanggung jawab , saya ga mau nanggung ngasihnya. Seperti perhitungan bahan, saya perkirakan juga kalau misalnya ada salah gunting bahan, salah tempel dll, masih ada sisa bahan yang dipakai. Sebisa mungkin semua beres ngerjain di rumah masing2. Yang penting lega rasanya liat sudah ada peserta yang selesai, berarti ga ada yang miss di workshopnya. 

Kapok bikin workshop online? tentu tidak. Sambil nulis ini pun sebenernya saya sambil siapin materi workshopnya. Materinya apa? Tunggu pengumumannya yaaaa

Wednesday, February 24, 2021

Kembali Posting di Blog

Jujur, sejak kenal facebook  dan  instagram, frekuensi menulis di blog jadi jauh berkurang. Alasan laptop kurang mumpuni lah, ribet kalau pake hp lah, dsb. Apalagi dengan adanya fitur stories, gak perlu mikir lama, susun kalimat. Tinggal cekrek , tulis dikit, upload. Ga perlu khawatir typo atau ada informasi yang keliru, toh 24jam terhapus sendiri, viewnya banyak pula.

Suatu hari cek grup mamah-mamah, ada subgrup untuk ngeblog. Mamah Gajah Ngeblog ngasih tantangan untuk ngeblog dengan tema-tema tertentu tiap bulannya. Sebagai ibu2 agak ambisius , pengen nyoba dong, sambil mikir bisa gak ya sebulan sekali. Coba join grup, ngintip aja dulu. Ternyata banyak yang profesional banget. Minder? enggak lah, malah seneng, bisa belajar dari yang pro. 

Sebelum nulis postingan ini, saya cek blog sendiri. Dulu desain blognya modal liat tutorial sana sini di internet. dengan modal modif nekat, saya cukup puas dengan hasilnya. Gak bagus banget memang, tapi cukup . Dulu saya simpan segala macam imagenya di photobucket, yang kalau sekarang saya buka blog, penuh dengan watermark photobucket. Mau ngatur ulang semuanya kok ya udah lupa gimana caranya. Jadi saya ambil jalan pintas. Beli aja lah templatenya shaaay... walaupun masih harus diatur lagi ini itunya, seenggaknya cukup untuk sekarang. 

Sambil mikir mau posting apa, saya baca-baca postingan lama. Pertanyaan "Selama ini ngapain aja sih?"  setiap malem sampai insecure, ternyata ternyata terjawab di setiap postingan. Dokumentasi kegiatan. Saya terlalu sibuk mikirin feed instagram lah, males posting , padahal setiap masa ada keseruannya, yang sayang sekali kalau tidak didokumentasikan. Saya pikir foto sudah cukup, karena memang foto saya seabrek. Tapi ternyata foto tanpa deskripsi rasanya memang kurang. Baca blog sendiri itu kayak nostalgia, kalo liat pencapaian ikut senang, baca drama dan curhat kesedihan malah jadi bersyukur karena ternyata sampai detik ini masih bertahan. Malah banyak informasi yang saya dapet pas saya baca lagi isi blog saya. Ternyata saya pelupa. 

Setelah baca postingan-postingan  lama, saya semakin yakin buat kembali ngeblog. Blog pertama saya dibuat di Multiply sekitar tahun 2008an . Awalnya ikut-ikutan aja, karena sosmed belum seramai sekarang. Kayak keren gitu kalau punya blog.  Interaksi dengan teman-teman sehobi jadi lebih mudah, campur dagangan ini itu,  alhamdulillah banyak teman multiply yang sampai sekarang masih menjalin silaturahmi. Di Multiply ini juga saya tau dunia online shop . Dulu taunya jualan craft saya di Rileks aja (anak kampus angkatan lama mah pasti hapal ini). 

Tahun 2010 saya mulai melirik Blogspot, karena multiply mulai geser fungsi ke arah marketplace, sekarang malah udah tutup ya multiply. Sempat punya juga blog di wordpress, tapi saya lupa password, berujung malas diisi lagi. Blog ini saya isi dengan kegiatan sehari, project craft , tutorial . Seiring pertambahan umur, bergeserlah topik ke arah persiapan pernikahan, lalu ke arah kehamilan, lahiran, mengurus anak dan seterusnya. Yang awalnya khusus untuk craft , jadi mulai campur ke kehidupan pribadi. Kegiatan menulis di blog pelan pelan pudar waktu saya mulai punya anak. Mungkin lelah, mungkin sibuk , jadi setiap mau nulis, bawaannya mau ngeluh aja, komplain. Sementara saya gak mau dong kalo isinya curhatan sedih aja, sementara kalau senang , malah lupa nulisnya. Makin jarang lah posting. Teman-teman yang dulu sering update blogpun sekarang makin jarang. 

Buat saya, masih lebih gampang buat tutorial daripada buat tulisan panjang seperti ini. Diingat-ingat lagi, dari kecil saya memang suka menulis diary, tapi lebih senang lagi di bagian hias menghiasnya. SMA pun masih menulis diary, tapi dalam bentuk komik strip . Semuanya udah hilang entah ke mana, padahal kayaknya lucu ya kalau dibaca lagi. Antara lucu atau malu sih, hehehe. Jadi nulis di blog pun tetap banyak foto foto penunjang tulisan. 

Tapi kembali ke niat awal ngeblog, Dokumentasi dan sharing. Mudah-an dengan join komunitas Mamah Gajah Ngeblog, makin semangat buat kembali menulis, dan kembali jadi rutinitas seperti dahulu . Mohon bimbingannya ya mamah-mamah.. 

Berhubung ada mamah-mamah yang mampir ke sini, izinkan saya perkenalkan diri ya, saya Linda FT 04. Dari kuliah tingkat 3 mulai seneng ngecraft. Sejak itu sampai sekarang, pekerjaan saya ya ga jauh-jauh dari craft. Mulai dari jualan produk craft, menulis buku craft , dan jadi tutor untuk workshop craft. Ibu dari satu anak, sekarang tinggal di Bandung.  Salam kenal semuanya !



Saturday, September 12, 2020

Sedikit Ngobrolin Pandemi

Mungkin dirasa udah telat ya ngobrolin pandemi ini. Mungkin malah udah bosen en capek ngobrolin ini lagi ini lagi. Tapi rasanya saya perlu tulis, paling enggak buat diri sendiri. Terakhir ada pandemi , mungkin sekitar 100 tahun lalu, jadi mungkin sebagian besar orang belum pernah ngerasain pandemi. 

Awal Februari, masih santai2 aja, sambil sesekali mengamati perkembangan covid-19. Baru berasa paniknya pas udah mulai PSBB . Ngeri, parno , campur aduk. 1 minggu PSBB, saya baru tau kalo hamil. HAMIL ketika pandemi, wow. Kayak dapet rejeki, sambil ngeri2 sedap. Jadi sambil merasakan anxiety, sambil mulai mengalami all day sickness. Mual2, lemes, sambil bingung ini efek hamil atau campur kecemasan.

Too much info & kengerian pandemi yang disebar di grup WA, medsos, TV, bikin kecemasan saya semakin bertambah,, rasanya hampir tiap hari nangis tengah malem. Masker medis mulai jarang & harga meroket, PHK di mana-mana. Di satu sisi bingung mau bantu segimana, dan gak yakin juga mau jor2an karena keluarga sendiri pun perlu  dipertimbangkan ya. 

Akhirnnya saya kembali ke ruang jahit, mulai jahit masker . Sambil tahan mual, sambil terus bikin masker buat dibagi2in, Somehow, jadi semacem obat, karena sibuk bikin , kecemasan sedikit berkurang, happy nambah karena bisa sharing. Alhamdulillah tumpukan kain masih banyak, karet masih banyak, jadi tanpa belanja masih bisa bikin banyak masker. Sebulanan itu ada mungkin 200pcs yang dibagikan, 


Lalu, bulan puasa dapet kabar kalo janin ga berkembang, harus treatment minum obat peluruh lah, kuret lah. Balik lagi ke drama cemas, sakit, nangis tiap malem.  Seminggu minum obat peluruh, berhari2 juga perut kontraksi. buat pengalihan , jait masker lagi. gitu aja terus. Pulang dari rawat inap pasca kuret, saya langsung lanjut jahit lagi.

Sekarang tiap mulai cemas, saya terus cari pengalihan. Masak, berkebun, menjahit. Tapi dari segala pengalihan, buat saya memang paling efektif menjahit. Mulai dari potong pola & jahit,, sampai pitain box2 maskernya, semuanya menyenangkan. 

Sudah hampir 6 bulan mengalami pandemi, cemas masih. Kangen ngobrol sama orang dewasa? banget. I really miss my friend. Saya stop sekolah TK anak saya , krn saya panik tiap harus nyiapin online learning. Saya stop bersosialisasi dengan tetangga. Sambil terus berharap pandemi segera selesai. 

Yang pasti dunia berubah ya. saya mulai mempertimbangkan cari sekolah online, ganti profesi, kumpulin dana darurat. Menghadapi ketidakpastian.

Buat semua yang baca, kita kuat. Yok bertahan!



Saturday, August 29, 2020

Strawberry Dress Trend

 Di saat pandemi ini, ada satu hal yang jadi perhatian saya (selain pandeminya sendiri ya,,), yaitu Strawberry dress trend! awalnya karena biasanya saya kerja sambil nyalakan youtube, nonton video random, biasanya berkisar di urusan jahit menjahit. Akhirnya ada youtube recomendation yang judulnya DIY Strawberry dress . Nontonlah saya sampai selesai, jatuh cinta juga sama dressnya. 

Selesai nonton, saya cari tahu tentang strawberry dress ini, yang ternyata viral di berbagai sosial media. Awalnya dari desainer NY yang menjual baju ini, lalu tiba2 boom! viral. Tapi jujur aja, saya juga suka dressnya , cantik, bawa keceriaan gitu kesannya. Baju ini resminya dijual di sini

Sudah pasti Knock Off dress dari Cina langsung muncul. Tapi serius deh,, beda jauh beb kualitasnyaaa , mulai dari cutting, bentuk, dan bahan. Banyak crafter yang remake bajunya, banyak fanart, dll. Saya juga gatel jadi pengen bikin dressnya. Jadi minggu lalu saya coba buat untuk boneka saya. 

Browsing sana sini, ada sih yang jual kain tile , tapi gak ada yang motifnya strawberry.  Sekalinya nemu, harganya mahal sekali, dikirim dari luar negeri, ,dan motif strawberrynya terlalu besar buat dress boneka. Jadi saya pasrah aja modif kain tile nya, bikin motif strawberry.  Strawberrynya saya buat dari kain flanel yang saya lapisi dengan cat glitter biar kaku. Digunting kecil2 bentuk strawberry, baru dicat hijau di bagian daunnya. 

Buat dressnya sama aja kayak bikin dress dewasa, sama2 ribet, dan  harus teliti karena ukurannya kecil sekali. Yang agak gagal sebenarnya bagian lengan. Ah, tapi yasudahlah gapapa. Tilenya sendiri habis sampai 1 meter untuk baju mini, banyak tumpukan dan rempel yang ngabisin bahan.




Kuncinya sih sabar aja, karena harus rajin serut, jahit & pasang banyak jarum pentul. Berhubung ini project iseng buat pelarian kerjaan utama, bikinnya jadi selow. 

Kalo ini dress buatan saya :


Nah, ini dress aslinya :



Yang pasti seru juga ya ikut2an gini. Lagi ah,,,


Back to Top